Film Contagion Sejak 2011 Telah Meramal Kejadian Virus Corona Yang Melanda Dunia Saat Ini, Sang Sutradara Akhirnya Angkat Bicara Dan Mengakui Kalo Terinspirasi.
![]() |
| Benarkah Film Contagion (2011) Meramal Corona |
Benarkah Film Contagion (2011) Telah Meramal Virus Corona? ~ Contagion yang berarti penularan dalam bahasa Indonesia adalah film fiksi ilmiah yang berasal dari Amerika dan disutradarai oleh Steven Soderbergh pada tahun 2011, film contagion bercerita tentang Beth Emhoff yang meninggal secara tidak wajar sehabis perjalanan bisnisnya di Tiongkok, kasus kematian Beth Emhoff mengundang perhatian sekelompok team medis dan melakukan autopsi pada mayatnya, cek per-check Beth Emhoff ternyata meninggal karena terjangkit Meningoencephalitis Virus One (MEV-1) sebuah virus yang berasal dari kelelawar dan babi, lambat laun virus (MEV-1) tersebut telah menyebar keseluruh penjuru dunia serta menelan banyak korban jiwa dan menimbulkan kepanikan dimana-mana, sangat mirip dengan apa yang terjadi sekarang. (Sinopsis Film Contagion 2011)
Sang sutradapun membuka mulut soal dugaan keterkaitan corona virus dengan film yang disutradarainya, Steven Sodenbergh mengaku bahwa film contagion terinspirasi dari penyebaran wabah virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrom) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrom), kedua wabah virus yang telah menginfeksi dan membunuh ribuan orang dari beberapa negara.
Steven Sodenbergh juga telah membuat sedikit modifikasi pada cerita di filmnya, Meningoencephalitis Virus One (MEV-1) ternyata hasil dari kombinasi antara influenza dan virus Nipah, gejala yang timbul pada korban adalah mengalami peradangan otak dan gangguan pernafasan. Alhasil, situasi dan kondisi wabah corona saat ini dengan film contagion melahirkan berbagai macam spekulasi.
Dilansir dari PBS NewsHour media online asal Amerika Serikat, Sekelompok para ahli dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, badan yang berkerja di bawah koordinasi Layanan Masyarakat dan Depertemen Kesehatan Amerika Serikat ini, membantu PBS NewsHour untuk memiilah-milah dan menguji keakuratan beberapa kejadian ilmiah dari film contagion, berikut faktanya:
Skenario Contagion: Meningoencephalitis Virus One (MEV-1) virus yang ada di film contagion, dimodelkan sebagai kombinasi influenza dan virus Nipah, yang menyebabkan peradangan otak dan penyakit pernapasan.
Faktanya: untuk saat ini virus (MEV-1) hanya ramuan Hollywood dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata, kata pakar virus CDC kepada NewsHour. "Influenza dan Nipah memiliki genome yang tidak saling cocok, artinya kedua penyakit ini tidak akan mampu untuk digabungkan." kata CDC dalam email.
Tetapi Nipah adalah virus yang memang benar-benar pernah ada di Asia Selatan dan dapat menyebabkan peradangan otak yang mematikan pada manusia, virus ini telah menewaskan 105 pasien di Malaysia pada tahun 1999, dan menyebabkan 49 kematian di India pada tahun 2001.
Virus Nipah belum menyebar secara luas pada manusia, dan hanya menghasilkan beberapa kasus saja, ahli virologi CDC mengatakan Nipah sangat tidak konsisten dengan patogen yang dapat menyebabkan pandemi global seperti Virus Corona saat ini, namun sayangnya hingga saat ini belum ada perawatan, obat atau vaksin yang efektif untuk penyakit ini.
Skenario Contagion: Virus Fiksi (MEV-1) ini sangat mudah menular sehingga menyebar ke lokasi baru di seluruh dunia dengan begitu cepat.
Faktanya: Hal ini sangat masuk akal dan sudah pernah terjadi sebanyak dua kali, dengan wabah pandemi H1N1 2009, dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada tahun 2003 di Asia, H1N1 menyebar secara global dalam beberapa minggu dan SARS menyebar ke tiga benua di 13 negara dalam waktu kurang dari sebulan.
Skenario Contagion: Virus fiksi (MEV-1) menginfeksi manusia melalui serangkaian pertemuan hewan: kelelawar memakan buah lalu jatuh ke kandang babi, babi yang memakannyapun kemudian disembelih dan dimasak oleh koki, yang lalu melakukan kontak dengan Gwenyth Paltrow.
Faktanya: Babi dan kelelawar di kehidupan nyata adalah yang menyebabkan wabah Nipah, virus ini menginveksi manusia melalui kontak dengan babi yang terinfeksi di Malaysia dan Singapura, dan juga dari mengkonsumsi buah yang telah terkontaminasi dengan air liur atau urin dari kelelawar yang telah terinfeksi di India dan Bangladesh, kelelawar telah menjadi tuan rumah reservoir yang hebat untuk penyakit, yang artinya mereka dapat menampung patogen tanpa batas dan tanpa efek buruk.
“Kontak dengan kelelawar atau dengan inang hewan perantara yang terinfeksi adalah tema umum di antara beberapa infeksi manusia yang baru muncul,” kata CDC.
Ebola, SARS dan flu burung, hanyalah beberapa dari banyak penyakit lain yang dimiliki manusia dengan hewan, makanan yang tidak steril juga merupakan jalur untuk penyebaran penyakit ke manusia, contohnya wabah SARS pada tahun 2003 dan setelah ditelusuri berasal dari kontak manusia dengan hewan kucing luwak, yang dijual untuk makanan di Cina.
Skenario Contagion: Ketika penyakit terus menghantui dunia, para ilmuwan dengan cepat mengerjakan vaksinnya, yaitu hanya dalam waktu sekitar empat bulan saja.
Faktanya: Dalam kasus virus yang baru muncul, mengembangkan vaksin dengan cepat adalah hal yang mustahil, kata CDC. Bahkan vaksin flu yang dikembangkan setiap tahun membutuhkan waktu setidaknya empat hingga enam bulan. Jadi untuk virus yang baru, mengidentifikasi, merumuskan vaksin, hingga mempertimbangkan keamanan vaksin, semua akan membutuhkan waktu yang tidak secepat itu.
"Dengan asumsi vaksin selesai dibuat dengan memakan waktu lebih dari 4 hingga 6 bulan saja" kata CDC.
Skenario Contagion: Suatu proses yang disebut pelacakan kontak dilakukan dalam film oleh penyelidik yang mencoba melacak penyakit melalui jalur jaringan sosial dan interaksi.
Pemeriksaan realitas: Prosedur ini banyak digunakan selama investigasi epidemiologi. Ini memberi otoritas kesehatan rasa tingkat paparan dan digunakan untuk mengembangkan respons kesehatan masyarakat dalam keadaan darurat, kata CDC.
Penyelidik akan mewawancarai seorang pasien atau anggota keluarga, melacak kontak pasien, menelusuri kembali langkah-langkah, menyaring orang-orang di sepanjang jalan dan mencoba mengidentifikasi sumbernya. Proses ini digunakan dalam segala hal mulai dari penyakit menular seksual, hingga penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti yang terlihat dalam upaya untuk melacak asal-usul wabah E.coli di Eropa awal tahun ini.
